27 Januari 2010

Sarno, "Dokter Kincir" Cilongok

Masih lekat di benak Sarno Ichwani (51), gelapnya malam di kampungnya, Dusun Kali Pondok, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, pada tahun 1980-an. Kalaupun ada terang, hanya nyala lampu minyak atau senthir sebagai penerang 29 rumah di dusun yang berada di lereng barat daya Gunung Slamet kala itu.

Namun, sejak usaha Sarno tak kenal lelah memperkenalkan kincir air sebagai pembangkit listrik sederhana, Dusun Kali Pondok kini pun menyala kala malam tiba. Bahkan, pada saat di banyak daerah—termasuk di Ibu Kota Jakarta—masyarakat dibuat jengkel dengan pemadaman listrik bergilir oleh PLN, listrik di Dusun Kali Pondok tetap menyala 24 jam.

Sebagai dusun yang terletak di lereng gunung, Kali Pondok memiliki banyak aliran sungai. Hampir semuanya mengalir di tebing-tebing curam. Bahkan, ada 10 air terjun di sekitar dusun ini yang ketinggiannya rata-rata di atas 10 meter, selain puluhan grojogan sungai. Salah satunya adalah Curug Cipendok yang sekarang menjadi obyek wisata ternama di Banyumas.

Di Desa Karangtengah, khususnya Dusun Kali Pondok, terdapat banyak potensi pengembangan listrik kincir air atau mikrohidro. Saat ini terdapat sekitar 30 kincir air sederhana milik warga, yang menjadi sumber listrik bagi 59 keluarga di kampung yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu.

Satu kincir air dapat menyuplai 2-4 rumah dengan daya antara 400 watt sampai 900 watt. Kincir-kincir itu kini juga menjadi sumber listrik bagi sejumlah penginapan di obyek wisata Curug Cipendok.

Kestabilan aliran sungai-sungai dari lereng Gunung Slamet sepanjang tahun membuat kincir air selalu berputar. Listrik pun dapat dinikmati warga secara gratis selama 24 jam penuh.

Sebenarnya Dusun Kali Pondok bukan satu-satunya perdusunan di Banyumas, khususnya di lereng Gunung Slamet, yang mengembangkan kincir air sebagai sumber listrik. Di sejumlah dusun di Kecamatan Kedungbanteng dan Baturraden, hal tersebut juga dikembangkan.

Akan tetapi, di Dusun Kali Pondoklah teknologi alternatif sederhana ini masih terus berkembang. Di dusun-dusun lain telah mulai surut seiring mengecilnya debit air sungai dari tahun ke tahun.

Namun, kemudahan itu tak datang dengan sendirinya. Menjaga agar limpahan aliran sungai tetap stabil juga bukan kerja mudah.

Dusun Kali Pondok sebenarnya relatif baru. Dusun yang terletak sekitar 20 kilometer arah barat laut Kota Purwokerto itu baru dihuni tahun 1970-an. Kala itu sebagian besar wilayah dusun ini masih berupa hutan di bawah pemangkuan Perhutani.

”Waktu itu baru ada 20 keluarga. Rumah-rumahnya pun beratap lalang. Jalannya masih setapak dan penerangannya hanya lampu senthir. Jadi, gelap sekali,” tutur Sarno.

Sempat dicibir

Hingga tahun 1987, saat jumlah penghuninya 30 keluarga, keadaan tak banyak berubah. ”Dulu, sebelum ada kincir air, kami pernah mengajukan penyaluran listrik ke PLN. Itu sekitar tahun 1987. Tapi, bertahun-tahun tak pernah direalisasi karena memang lokasi dusun kami di atas lereng dan sulit dijangkau,” kata Sarno, yang dipercaya sebagai ketua RW setempat.

Ketiadaan listrik itu membuat potensi wisata Curug Cipendok di dusun tersebut pun terpendam. Kehidupan masyarakatnya pun juga sangat sederhana, apalagi untuk sampai ke pusat desa terdekat mereka harus berjalan kaki 2 kilometer karena tak adanya angkutan serta sulitnya medan.

Hingga suatu ketika pada tahun 1989 Sarno bertemu dengan temannya, Jono, asal Desa Semaya, Kedungbanteng, yang memperkenalkan teknologi kincir air. Di Semaya, kincir air lebih dahulu dikembangkan sebagai sumber listrik.

Sarno lalu pergi ke Pasar Wage di Purwokerto untuk membeli dinamo bekas motor Honda CB, dua balok magnet, kabel kumparan, tali karet hitam, dan kabel penghantar arus.

”Waktu itu saya belanja habis Rp 100.000. Lalu saya rangkai dengan roda kayu pemutar yang berjari-jari 50 sentimeter dan roda kecil berjari-jari 20 sentimeter,” kata Sarno.

Maka, jadilah kincir air percobaan Sarno, yang sekolah dasar saja tak lulus itu. Kincir air itu ditempatkan di tengah arus hulu Sungai Wadas. Pada percobaan pertama itu Sarno gagal, dia tak mendapatkan arus listrik.

Berhari-hari lamanya Sarno mencoba dan terus mencoba membuat kincir air itu berfungsi. Usahanya ini pada awalnya dicibir tetangganya. Tak ada bekal pendidikan memadai yang dimiliki Sarno. Selain itu, kincir air sebagai sumber listrik dianggap sesuatu yang mustahil bagi warga Dusun Kali Pondok yang hampir semuanya petani itu.

Hingga suatu ketika Sarno berhasil membuktikan, kincir airnya menghasilkan arus listrik. Sejak itu rumahnya menjadi terang oleh listrik.

Satu per satu tetangganya meminta dibuatkan kincir air. Dengan senang hati, Sarno membuatkannya, gratis. Hingga akhirnya kini ada 30 kincir air di desa itu sebagai pembangkit mikrohidro.

Seiring hadirnya listrik, Dusun Kali Pondok pun mulai menggeliat. Investor mulai melirik pengembangan wisata di Curug Cipendok. Jalan beraspal dibuat di dusun ini. Warung-warung dan industri rumah tangga bermunculan.

Setiap ada kerusakan pada kincir air Sarnolah yang pertama dipanggil warga untuk memperbaiki. Dengan senang hati, dia selalu melakukannya, tanpa memungut biaya. Tak heran, para tetangga menyebutnya ”dokter kincir”. ”Yang penting dusun ini tak kekurangan cahaya, saya sudah bahagia,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini.

Menjaga lingkungan

Sarno sadar, keberadaan pembangkit listrik mikrohidro di kampungnya sangat bergantung pada aliran sungai-sungai yang bersumber dari hutan di lereng Gunung Slamet. Kerusakan hutan akan membuat sungai-sungai itu surut airnya. Otomatis, malam yang suram bakal kembali terjadi di Kali Pondok.

”Desa-desa lain di lereng Gunung Slamet yang dulu pakai kincir air sebagai listrik banyak yang mulai surut. Debit air sungainya turun karena sebagai hutannya mulai dirusak,” kata bapak tiga anak ini.

Kesadaran itu yang membuat Sarno mengajak warga Dusun Kali Pondok untuk tak lelah turut menjaga kelestarian hutan di lereng Gunung Slamet, khususnya di atas dusun ini.

Sarno sering kali mengajak warga sekitarnya untuk ikut menanami kembali lahan yang telah digunakan untuk bercocok tanam dengan tanaman keras. Dengan cara itu, air tetap tersimpan di bumi Kali Pondok.

Satu harapan Sarno adalah adanya perhatian pemerintah untuk pengembangan teknologi yang lebih baik bagi pengembangan listrik mikrohidro di sekitar Kali Pondok. Dia yakin, dengan potensi berlimpah, tak hanya Kali Pondok yang dapat bersinar terang, tetapi juga listrik bertenaga air itu pun akan dapat menerangi satu kecamatan di Cilongok, bahkan Banyumas bagian barat. (www.kompas.com)

Lahir: Banyumas, 19 September 1958 • Pendidikan: SD Negeri Karanggondang (sampai kelas IV) • Istri: Tuminah • Anak: 3 • Pekerjaan: Petani

19 November 2008

Sarno dan Durian Bhineka Bawor Banyumas


Instingnya terhadap durian begitu kuat. Cukup melihat bijinya, ia tahu jenis durian itu. Pengalaman semasa kecil menemani sang ayah mencari durian hingga ke pelosok desa membuat Sarno Ahmad Darsono terobsesi pada durian. Ia lalu ”menciptakan” pohon durian bhineka bawor, hasil okulasi 20 jenis durian varietas lokal dan luar. ”Begitu banyak jenis durian di negeri ini, kenapa kita kalah dari Thailand?” pikirnya.

Permenungan itu menantang Sarno, petani durian dari Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, untuk mendapatkan kelebihan dan peningkatan produktivitas durian. Tahun 1996 ia berkeyakinan, pohon durian yang sebelumnya baru berbuah setelah berusia delapan tahun dapat dipersingkat menjadi empat tahun dengan okulasi.

Tetapi, ketika itu dia juga tak pernah berhenti berpikir, apakah okulasi adalah cara yang paling tepat? Sementara itu, ingatannya selalu kembali pada masa kecil, saat ia berjalan dari kebun satu ke kebun yang lain untuk mendapatkan buah durian berkualitas baik.

Pada usia tujuh tahun, Sarno sudah mampu membedakan durian berdasarkan jenisnya. Dengan memegang dan menimbangnya, ia tahu durian yang ada di tangannya telah matang atau belum, berkulit tebal atau tipis.

Ketajaman penciuman ikut membantu dia memilah durian yang puket (manis, berlemak, dan beralkohol) atau bukan. Dalam ingatan, dia menyimpan koleksi durian apa saja yang berkualitas baik. Sebut misalnya durian petruk, sunan, dan kuningmas. Kepekaannya itu telah membantu sang ayah mengumpulkan durian, dan menjualnya di pasar-pasar di Banyumas.

Namun, Sarno pun menyadari bahwa kepekaannya pada durian itu tak bisa menjawab pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya, mengapa kita kalah dari Thailand? Ia lantas berusaha mendapatkan jawabnya, antara lain lewat buku-buku pertanian.

”Setelah memperoleh bahan informasi yang cukup, saya yakin okulasi bisa meningkat- kan produktivitas durian,” ucapnya.

Meskipun demikian, ia tak melakukan okulasi hanya pada dua pohon durian yang berbeda jenis. Pada percobaan pertama, Sarno langsung mencoba mengokulasi pohon durian montong oranye dengan 20 jenis durian lokal, seperti sunan, petruk, otong, cinimang, kereng, kuningmas, oneng, bluwuk, dan kumba karna.

Dalam percobaannya itu, ia membagi pohon primer, sekunder, dan tersier. Pohon durian montong oranye dijadikan pohon primer. Tubuh pohon itu dilukai pada beberapa bagian untuk menempelkan 10 tunas pohon durian lokal berkualitas baik, seperti petruk, kuningmas, dan kumba karna, yang menjadi pohon sekunder.

Setelah berselang tiga-empat bulan, okulasi pohon primer dengan sekunder mulai melekat. Sarno lalu mencoba membuat okulasi lagi pada pohon-pohon sekunder, dengan melukai pohon-pohon itu untuk menempelkan pohon durian lokal berkualitas sedang sebagai pohon tersier.

Banyaknya pohon durian yang digunakan untuk okulasi membuat pohon primernya tumbuh menyerupai pohon bakau yang akarnya mencuat dari tanah.

Menurut Sarno, tingkatan pada okulasi itu berguna untuk menjamin ketersediaan makanan yang lebih banyak untuk pohon primer. Adapun fungsi pohon sekunder adalah memengaruhi kualitas buah yang dihasilkan pohon primer.

Empat tahun kemudian atau tepatnya akhir tahun 2000, pohon hasil percobaannya sudah menghasilkan 30-40 buah durian montong oranye yang berbeda dari aslinya. Kulitnya tipis, daging lebih tebal, warna daging buah lebih merah seperti durian kuningmas, rasa lebih puket, dan beralkohol seperti durian petruk. Ukurannya sebesar durian kumba karna dengan berat bisa lebih dari 10 kilogram.

Menjaga erosi tanah

Batang-batang okulasi yang ditempelkan pada pohon primer, kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD Negeri Manggungan 1 ini, juga berfungsi untuk menjaga erosi tanah. Oleh karena itu, lebih dari lima tahun ini dia juga giat mengimbau para petani durian di sekitar Kemranjen, yang umumnya bermukim di kawasan perbukitan, untuk menanam pohon durian ”ciptaannya”.

Kini, setiap bulan Sarno tinggal menunggu pembeli dari Banyumas maupun Jakarta untuk mengambil durian dari pohon hasil ”ciptaannya”. Harganya per kilogram sekitar Rp 17.000, sedangkan bobot per buah 6-12 kilogram.

”Beberapa hari lalu saya menjual durian montong oranye seharga Rp 200.000 karena bobotnya sampai 12 kilogram,” ucapnya.

Tak hanya itu, setiap bulan Sarno juga memperoleh pesanan untuk memasok bibit okulasi bhineka bawor-nya ke Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Untuk satu kali pengiriman bisa sampai 200 bibit. Bibit pohon durian itu dijualnya seharga Rp 75.000-Rp 150.000 per pohon, tergantung jumlah tunas pohon durian yang digunakan untuk okulasi.

Tentang nama bhineka bawor untuk durian ”ciptaannya”, kata Sarno, ”bhineka” diambil dari semboyan negeri ini, Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna keragaman budaya seperti keragaman jenis durian lokal di Indonesia. ”Bawor” diambilnya dari salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol Kabupaten Banyumas, dengan ciri khas cablaka atau berbicara apa adanya.

Dengan semangat keragaman itu pula, pengurus Paguyuban Petani Durian Unggul Kemranjen ini menamakan duriannya Sarakapita yang merupakan akronim nama dirinya, sang istri, dan nama ketiga putrinya.

”Buah durian ini juga menjadi simbol kebersamaan keluarga kami,” ucapnya.

Kelas transisi

Namun, masih ada masalah yang mengganjal dalam pikiran Sarno, yakni bagaimana mengupayakan pohon durian bisa berbuah di luar musim. Seperti sekarang, petani durian di Kemranjen tak bisa memperoleh panen maksimal karena banyak buah yang rontok pada usia dini akibat curah hujan yang cukup tinggi.

”Untuk tahun depan, saya sedang mempersiapkan formulasi pupuk dan waktu yang tepat untuk memupuk pohon durian agar bisa berbuah sebelum bulan November,” ucapnya berharap.

Kompleksitas pemikiran Sarno tak hanya tecermin pada durian, tetapi juga pilihan lapangan tugasnya sebagai guru. Baginya, tak ada tantangan untuk mengajar siswa kelas tiga sampai lima karena siswa relatif sudah dalam kondisi stabil.

Kelas-kelas transisi bagi siswa merupakan pilihan dia, yakni kelas enam serta kelas satu dan kelas dua. Kelas enam, misalnya, menurut Sarno, merupakan lapangan tugas yang ”tiada akhir” lelahnya bagi guru sebab harus mempersiapkan para siswa sampai matang agar bisa lulus SD. Oleh karena itulah, sejak diangkat sebagai guru tahun 1988 hingga 2004, ia menjadi guru kelas enam.

Baru empat tahun belakangan ini dia pindah menjadi guru kelas satu dan dua. Kedua kelas ini, menurut Sarno, juga memiliki tantangan yang tak kecil karena siswa umumnya mengalami peralihan dari dunia bermain ke dunia belajar.

”Pada garis-garis berisiko inilah saya menemukan kenikmatan berkarya,” kata Sarno (tulisan dan foto diambil dari kompas.com)

11 Oktober 2008

Ke Cipendok Memadu Kasih


BANYUMAS memiliki tempat yang lebih menggetarkan hati ketimbang suasana feodal Kota Verona di Roma, Italia. Kota tempat Romeo dan Juliet memadu kasih itu, kalah indah dengan tempat dimana Raden Ranusentika menjalin kisah asmara dengan Dewi Mas Inten. Tidak percaya? Berkunjunglah ke Curug Cipendok, air terjun dengan ketinggian mencapai 100 meter.

Banyak kata yang digunakan Shakespeare, pengarang kisah Romeo-Juliet, untuk mengambarkan kota Verona, dan mencipta kisah rekaan Romeo-Juliet. Sebaliknya,pesona yang bisa dihadirkan kawasan yang masuk wilayah Kecamatan Cilongok itu justru sukar digambarkan dengan kata. Simponi musik yang dihadirkan lewat dentuman air terjun, gemericik sungai, kicau burung, desau angin di rimbunan hutan, dan sesekali celoteh kera liar, membuat kata-kata terasa tidak lagi memadai.

Bila sedang mujur, pelancong bisa menyaksikan “penampakan” salah satu hewan langka di dunia yaitu kera berdada abu-abu. Sementara di langit di atas hutan, sesekali burung elang Jawa melintasi udara dengan anggun. Kalau cukup bernyali, di sekitar kawasan Telaga Pucung masih ada harimau pemalu yang enggan memperlihatkan diri.

Kera berdada abu-abu dan harimau bisa ‘dipancing’ keluar dari persembunyian mereka lewat jasa pawang. Lewat sejumlah prosesi adat, pawang bisa mengundang raja hutan dan kawanan kera untuk keluar dari rimbunan hutan.

Situs Asmara

Hingga kini, masyarakat setempat mempercayai legenda berbalut kisah asmara dua sejoli, Raden Ranusentika dan Dewi Mas Inten. Kisah asmara mereka, meninggalkan sejumlah bukti fisik yang kini masih tersisa.

Nama Curug Cipendok bermula dari legenda yang masih berkaitan dengan sejarah Perang Diponegoro. Perang ini merupakan perang lima tahun (1825-1830) antara Pangeran Diponegoro melawan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Perang yang dimenangkan Belanda itu membuat seluruh wilayah Banyumas berada dibawah kekuasaan pemerintahan colonial.

Raden Ranusentika merupakan wedana (pemimpin) daerah Adjibarang, di dekat Banyumas. Belanda menugasinya memimpin kerja paksa membuka hutan belandara di sekitar lereng GunungSlamet untuk dijadikan perkebunan.

Delapan bulan memimpin pembukaan hutan, selalu terjadi keanehan. Pada saat pohon selesai ditebang, esoknya tumbuh lagi seperti semula. Seolah-olah seperti belum pernah ditebang sama sekali. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, sehingga membuat bingung dan pusing Raden Ranusentika. Ia kemudian melakukan semadi memohon petunjuk Tuhan. Sayangnya, dia merasa tak mendapat petunjuk-Nya.
Raden Ranusentika pergi memancing di ikan di dekat air terjun. Saat itulah, ia merasa kailnya seperti ditarik-tarik oleh ikanyang besar, sampai-sampai gagang pancingnya melengkung. Saat ditarik, kailnya menyangkut sebuah cincin warangkakeris (pendok) yang bersinar kuning keemasan.

Ketika didekatkan, tiba-tiba Raden Ranusentika bisa melihat banyak sekali makhluk halus yang berada di hutan yang telah ditebang habis. Mereka semua yang selama ini menggagalkan pekerjaan Raden Ranusentika.

Atas usulan Breden Santa, seorang kepala pekerja, air terjun dimana Raden Ranusentika menemukan pendok keris, dinamakan Curug Cipendok. Berasal dari kata curug yang berarti air terjun dan pendok atau cincin dari bilah keris.Pendok keris yang ditemukan Raden Ranusentika

Selain menemukan pendok, Raden Ranusentika juga ditemui seorang makhluk halus berujud peri, bernama Dewi Mas Inten. Karena bukan manusia, ia mendapat julukan Putri Sudhem. Julukan ini berasal dari kata ‘susu adhem’ artinya payudaranya dingin karena sebagai mahluk halus, dia tidak memiliki darah panas seperti manusia.

Keduanya menjalin asmara, dan bersama-sama menyelesaikan pekerjaan pembukaan hutan. Dewi Mas Inten diboyong ke Kadipaten Ajibarang, menjadi garwa padmi (selir) dari Raden Ranusentika.
Situs peninggalan Raden Ranusentika bernama “watu kunci” dan Dewi Mas Inten dinamai “watu gembok”. Dewi Mas Inten yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai siluman kera, kala itu membantu ritual babad alas mantan wedana Ajibarang, Raden Ranusentika. Keduanya berpisah ketika Ranusentika, atas keberhasilan membabat hutan, diangkat menjadi Bupati Purbalingga oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Sampai sekarang, jika ada orang yang bisa mencapai situs tadi, masyarakat percaya hubungan asmaranya bisa langgeng. (*)

Batik Banyumas


Salah satu kekayaan budaya Banyumas adalah Batik Banyumas. Batik Banyumas memiliki sejarah yang tidak terlepas dari budaya asli Banyumas maupun pengaruh budaya lain seperti Jogjakarta dan Surakarta, maupun Pekalongan. Sejarah asal mula batik Banyumas memang belum dapat dilacak permulaannya, namun dari informasi para sesepuh dan penggiat batik Banyumas, disebutkan batik Banyumas berasal dari adanya Kademangan-kademangan di daerah Banyumas dan juga adanya pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi di daerah Banyumas.

Batik Banyumas identik dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Warna coklat karena soga, sementara warna hitam karena wedel. Motif-motif yang berkembang sekarang ini antara lain: Sekarsurya, Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Jahe Puger, Cempaka Mulya, Kawung Jenggot, Madu Bronto, Satria Busana, Pring Sedapur. Tentu saja, para penggiat batik Banyumas juga menghasilkan motif-motif lain dengan melakukan kombinasi, terobosan motif baru sehingga tercipta satu karakter seni lukis yang indah.

Bahan batik Banyumas antara lain: mori sen, dobi, sutera, paris.
Batik Banyumas dibedakan dari cara pembuatannya ada dua yaitu batik cap dan batik tulis. Batik cap bisa diselesaikan dalam waktu 3 hari sementara batik tulis bisa 3 sampai 6 bulan, sehingga harganyapun jauh berbeda, batik cap berkisar puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah, sedangkan batik tulis dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Langkah-langkah Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam mendukung kelestarian batik Banyumas dengan cara menerapkan pemakaian seragam batik Banyumas bagi seluruh pegawai Pemkab Banyumas pada hari tertentu (Sabtu).

Data dari buku Produk Industri Andalan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas Tahun 2006, menyebutkan potensi pembatikan di Kabupaten Banyumas: 624 unit usaha, dengan tenaga kerja 985 orang, nilai investasi Rp 936.000.000,-, kapasitas produksi pertahun 59.904, dengan lokasi sentra industri batik Banyumas terbanyak di Kecamatan Banyumas (Desa Pekunden, Pasinggangan, Sudagaran, Papringan) dan Kecamatan Sokaraja (Desa Sokaraja Lor, Sokaraja Kidul, Sokaraja Tengah, Sokaraja Kulon, Karang Duren). (*)

Dablongan Sopsan


Komunitas Seni Banyumas

"Iwak emas diuntal teri, Lengger Banyumas tetep lestari"

Para pengunjung situs web Pemerintah Kabupaten Banyumas tentu tidak asing dengan lirik lagu Lengger di atas. Ya, itu salah satu yang sangat khas Banyumas dengan bahasanya, dengan keriangan musiknya, dengan isi atau lirik lagunya.
Tapi siapa yang berada di belakang terciptanya lagu tersebut? Siapa yang menyanyikannya dengan penuh nuansa Banyumas?
Pencipta lagu Lengger ini adalah Fajar Sopsan, dan dinyanyikan oleh Komunitas Musik Dablongan yang berdiri di tahun 2000. Pendirian gup musik ini tak lepas dari populernya jenis aliran musik campursari yang merupakan perpaduan musik diatonis dan pentatonis. Berangkat dari situ, maka didirikanlah Komunitas Musik Dablongan yang bermotivasi mengangkat Banyumas ke permukaan melalui musik dengan lagu-lagu Banyumasan yang bersifat cablaka, riang, penuh canda, santai, dan kedablong-dablongan yang mampu melahirkan humor-humor segar serta mampu membangkitkan kerinduan dan kecintaan terhadap Banyumas. (*)

Masjid Saka Tunggal


Masjid Saka Tunggal kiye anane nang desa Cikakak kecamatan Wangon. Saka guru masjid kiye mung siji, kabeh permukaan saka guru kiye diukir. Mimbar karo lawang Mihrab uga digawe sekang kayu ukiran.

Nang sekitar komplek masjid kiye ana taman sing cokan ditekani lutung. Pancen lutung akeh pisan nang alas sekitar desa kuwe.

Desa kiye sabenere dadi panggonan rekreasi ing tlatah Banyumas, nanging amarga ora diurusi dadi kurang kondhang.

Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah keberadaan empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Menurut Sopani, empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.

”Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia,” ujar Sopani.

Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,” kata Sopani.

Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.

Keaslian lain yang masih terpelihara di masjid yang sejak tahun 1980 ditetapkan sebagai cagar budaya Banyumas tersebut adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.

Kekhasan masjid ini yang masih ada adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

”Karena masjid ini adalah cagar budaya, keasliannya dijaga. Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng,” kata Sopani, salah satu juru kunci di sana.

Keunikan masjid ini juga terasa pada tradisionalisme keagamaan umat yang beribadah di dalamnya. Setiap akan shalat berjamaah selalu didahului dengan puji-pujian atau ura-ura yang dilagukan, seperti kidung Jawa. Beberapa jemaah menggunakan udeng atau ikat kepala biru bermotif batik.

Tata cara shalat jamaah di masjid kuno ini tak jauh berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya. Khusus pada jamaah shalat Jumat, jumlah muazin atau orang yang mengumandangkan azan ada empat. Selain itu, semua rangkaian shalat Jumat dilakukan berjamaah, mulai dari shalat tahiyatal masjid, khoblal juma’ah, shalat Jumat, ba’dlal jum’ah, shalat dzuhur, hingga ba’dlal dzuhur. Semua muazin mengenakan baju panjang warna putih dan udeng atau ikat kepala khas Jawa warna biru bermotif batik.

Lalu, pesan atau khotbah Jumat dilantunkan seperti berkidung. Demikian pula dengan pembacaan ayat-ayat suci.

”Ini sudah menjadi adat kami turun-temurun. Tugas kami hanya mempertahankan agar tidak punah,” ujar Sopani (*)


UMK Purbalingga Rp618.750 pada 2009

86 Persen dari KHL

Purbalingga - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Asosiasi Pengusaha Indonesia, dan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Purbalingga sepakat besaran upah minimum kabupaten 2009 sebesar Rp 618.750, naik 10,4 persen dari UMK 2008 yang Rp 560.000. UMK 2009 itu 86 persen dari kebutuhan hidup layak atau KHL yang Rp 720.000.

"Dari forum tripartit kami sepakat, UMK Purbalingga untuk 2009 adalah 86 persen dari KHL. Sebenarnya kami berharap bisa 100 persen, tetapi angka itu realistis baru tercapai secara bertahap pada 2012," kata Kepala Disnakertrans Purbalingga Basuki Rachmat, Jumat (10/10).

Kesepakatan tripartit tersebut sudah dicapai awal September 2008. Pemerintah Kabupaten Purbalingga telah mengusulkan UMK Rp 618.750 itu kepada Gubernur Jawa Tengah pada pertengahan September. (kompas.com)